MESRANYA SBY & JOKOWI

Mesranya SBY dan Jokowi


PUSING tujuh keliling. Inilah kondisi realitas di jalanan ibu kota Jakarta dan sekitarnya yang tidak pernah alpa kemacetan lalu-lintasnya. Dari hari ke hari, arus lalu-lintas di DKI Jakarta semakin parah. Jalanan Jakarta dipenuhi rimbunan kendaraan bermotor. 

Tak ayal, tamu-tamu negara dari luar negeri ketika berkunjung ke Jakarta mengatakan hal serupa. Jakarta macet, padat dan merayap. Presiden kena sindiran oleh tamu-tamunya dari East Asian Summit 2013. 

Kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), era desentralisasi, seharusnya yang bertanggung jawab penuh atas persoalan adalah kepala daerah masing-masing. Gubernur Jakarta yang cocok untuk menjelaskan ke masyarakat, kenapa masih terjadi kemacetan lalu-lintas yang akut ?

(repro budi susilo)

Bak berbalas pantun, Gubernur DKI Jakarta Jokowi menginginkan peran penting dari pemerintah pusat juga. Kebijakan pemerintah pusat harus turut berkesinambungan, kebijakannya tidak tumpang tindih, dan tetap komitmen dalam memecahkan kemacetan lalu-lintas Jakarta.

Melihat fenomena itu, ternyata kemacetan lalu-lintas telah banyak menggiring orang untuk ‘naik darah’. Ini tidak terjadi hanya pada masyarakat akar rumput , namun juga telah merembet ke pejabat negara, antara presiden dan gubernur.

Nada sindir presiden ke gubernur DKI Jakarta tentu saja dapat dibaca sebagai manuver politik jelang pemilihan umum tahun 2014 yang semakin memanas. 

Di dalam kaca mata politik, presiden lebih menonjolkan tendensi kepada gubernur, yang belakangan ini namanya menjadi kandidat kuat calon presiden.

Jokowi di masa jabatannya yang sudah masuk 100 hari terus mendapat sorotan dari para politisi Demokrat. Hujan kritikan dan rasa tidak puas yang muncul dari kalangan partainya presiden, tak kunjung habis terus mengalir deras. 

Entah itu persoalan politik atau hal lain, yang pasti warga masyarakat Jakarta tidak peduli. Rakyat sudah cerdas, mampu menilai mana yang objektif, dan mana yang karena tendensi kepentingan politik 2014 nanti.

Setidaknya, masyarakat sudah melihat usaha nyata yang dilakukan pemerintahan provinsi DKI Jakarta dalam mengurai kemacetan lalu-lintas yang tidak bisa dilakukan oleh pemerintah sebelumnya. Seperti di antaranya, menata pedagang kaki lima Tanah Abang, menguatkan transportasi publik jalur Busway, dan pembangunan mass rapid transit

Tentu saja, daripada penat selalu membicarakan politik praktis, lebih baik pandang fenomena SBY versus Jokowi tersebut dengan pendekatan kacamata budaya Indonesia saja. 

Presiden sebagai orang tua, dan Jokowi sebagai anak muda, merupakan hubungan seperti bapak dan anak. Logikanya, keduanya tetap saling menjaga komunikasi demi harmonisasi hubungan. 

Sebagai orang tua yang dinilai memiliki segudang rasa bijak, wajib memberikan nasehat, petuah atau kata-kata mutiara kepada anaknya, guna tidak terjerumus pada jalan yang salah. 

Presiden melontarkan ‘sentilan’ kepada gubernur merupakan bentuk kasih sayang orang tua pada anaknya. Selalu memberikan nasehat yang mendorong Jokowi untuk selalu berpikir, mencari jalan keluar dan jangan pernah putus asa. 

Orang tua mana yang mau membiarkan dan menelantarkan anaknya. Orang tua selalu memberikan ceramah. Jika anaknya ada salah, maka orang tua memberikan teguran. 

Sebaliknya, jika orang tua hanya diam, acuh tak acuh atas semua kondisi anaknya, maka bisa dikatakan orang tua tersebut sudah tidak memiliki lagi rasa kasih sayang pada anaknya. 

Karena itu, topik bahasan kemacetan Jakarta, anggap saja SBY dengan Jokowi itu ibarat bapak dan anak. Keduanya masih mesra, mau saling berkomunikasi, tidak seperti cerita-cerita rakyat yang di antaranya ada di Sumatera Barat Malinkundang, antara anak dan orang tua sudah tidak ada lagi komunikasi, enggan berhubungan karena satu di antaranya telah ‘gelap’ kasih sayangnya, memiliki rasa benci. ( )


Komentar

Postingan populer dari blog ini

DATANG KE DATAH BILANG, PRESIDEN SOEHARTO PUN PERNAH

PRASASTI KALASAN YOGYAKARTA

MACACA NIGRA PRIMATA SEMENANJUNG MINAHASA I