SEMANGAT BEOGRAD YUGOSLAVIA

Gelorakan Gerakan Non Blok
Oleh: Budi Susilo

MASIHKAH kita semangat terhadap gerakan Non-Blok ? Yups, 42 tahun yang lalu, atau 6 September ini (Jumat 2013), tepatnya di Beograd Yugoslavia berkumandang pekikanMelawan kolonialisme, imperialisme dan neo-kolonialisme.” 

Gerakan ini muncul dari kesadaran masing-masing anggota negara yang berjumlah lebih dari 100 negara dari belahan Asia, Afrika dan benua Amerika untuk tidak berafiliasi kepada negara-negara yang sedang melakukan perang dunia.

Saat itu peta kekuatan perang terbagi dua antara blok barat dan blok timur Uni Soviet. Kondisi inilah yang kemudian memunculkan embrio perdamaian dunia dengan menggelar Gerakan Non-Blok yang pertama kali di Beograd Yugoslavia pada 6 September 1961.



Mengutip dari wikipedia, saat itu pertemuan dihadiri 25 anggota, masing-masing 11 dari negara Asia dan Afrika bersama Yugoslavia, Kuba, dan Siprus. 

Sedangkan untuk pertama kalinya kata “Non-Blok” dicetuskan oleh Nehru yang saat itu sebagai Perdana Menteri India. Ini ia sampaikan kala berpidato di Kolombo, Sri Lanka pada tahun 1954.

Kemudian di tahun 1955, tercetuslah ide untuk mengorganisasikan gerakan politik Non-Blok. Ide ini muncul di saat momen Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika di Bandung Jawa Barat, Indonesia. 

Mereka-mereka yang menjadi ‘dalang’ gerakan ini adalah Josip broz Tito Presiden Yugoslavia, Soekarno Presiden Indonesia, Kwame Nkrumah pemimpin Ghana, Pandit Jawaharlal Nehru Perdana Menteri India dan Gamal Abdul Nasser Presiden Mesir.

Melihat fakta sejarah yang ada, bahwa semangat untuk menciptakan perdamaian dunia telah didambakan pemimpin-pemimpin dahulu. Mereka merasa bersatu, bersaudara, tak perlu ada saling mencelakakan seperti apa yang diistilahkan Thomas Hobbes, “Homo Homini Lupus

Penjajahan di atas bumi harus dihapuskan. Inilah ruh yang dimiliki oleh Indonesia dalam konstitusinya, mungkin akan sama dengan negara-negara lainnya. 

Sebab, berdasarkan pengalaman empiris, penjajahan itu tidak memberikan kebaikan. Yang ada timbul rasa saling bermusuhan, kehidupan yang tentram sentosa sulit tercipta.

Pepatah mengatakan, perang itu hasilnya pahit. Yang menang jadi arang, apalagi yang kalah hanya menjadi abu. Kedua-duanya penuh kesia-siaan, hanya membuat jatuh miskin, hati pun gelap gulita.

Sekarang, masihkah kita cinta pada nilai-nilai perdamaian, dengan tidak melibatkan pada hal-hal yang menghancurkan ? Sekarang, masihkah kita peduli pada nilai-nilai perdamian dengan menjadi inisiator dalam menumbuhkan perdamaian di dunia ? 

Gerakan Non-Blok yang telah dicontohkan para pemimpin-pemimpin sebelum kita dapat memberikan pelajaran penting, bahwa perdamaian dunia itu kebutuhan mendasar dalam kehidupan. 

Bersatu dan damai. Bekerjasama dan kerja nyata. Saling memberi dan menghargai adalah bagian elemen penting untuk mempertahankan ruh gerakan Non-Blok yang anti terhadap kolonialisme, imperialisme dan neo-kolonialisme bagi seluruh negara di dunia. Selamat hari peringatan gerakan Non-Blok bagi kita semua. ( )


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PRASASTI KALASAN YOGYAKARTA

DATANG KE DATAH BILANG, PRESIDEN SOEHARTO PUN PERNAH

MACACA NIGRA PRIMATA SEMENANJUNG MINAHASA I