BURUNG BESI KELAHI SAPI
Burung Besi Kelahi Sapi
Oleh: Budi Susilo
Oleh: Budi Susilo
Kisah unik, tiada bandingannya di dunia, pertarungan seru Burung Besi versus Sapi di arena jagad Angkasa Pura-pura Gorontalo, Rabu (7/8/2013) pagi.
Pertarungan head to head kedua petarung tersebut sungguh menarik tuk disimak, meski prediksi tebakan sebagian besar penonton, si Burung Besi yang akan menjuarai.
![]() |
Di negeri bernama Angkasa Pura-pura, si Burung Besi memiliki ciri bertubuh kekar dan besar. Keahliannya mampu menerjang dengan aura garang. Sekali menyerang ,membuat lawan tak berani balik serang.
Beda dengan yang lain, Burung Besi ini memiliki tato berlogo singa merah. Simbol ini menandakan keperkasaan, mampu menguasai disegala medan, baik itu dalam negerinya sendiri maupun luar negeri.
Sudah bukan rahasia umum. Burung Besi telah lama bercokol sebagai petarung tangguh di negeri Angkasa Pura-pura. Tidak heran, popularitas Burung Besi terus menanjak, sudah memiliki banyak penggemar setia.
Sementara si Sapi bertubuh mini. Memiliki senjata ekor panjang dibagian bokongnya. Jika digerak-gerakan, dapat memecut. Terbilang lumayan sakit, saat mengenai pecutan ekornya dan herannya, banyak juga orang yang suka dengan ekor si Sapi ini. Sup Buntut !
Selain itu, di kepala Sapi juga dilengkapi asesori dua tanduk kokoh. Fungsinya tak lain tuk melakukan serudukan dan pertahanan. Sekali seruduk, pihak lawan dapat ambruk. Banteng sekali pun, jika berani menantang dan melawannya, pasti akan tumbang oleh kekuatan sapi.
Sebab sudah teruji. Pernah ada cerita belum lama ini, si Sapi mampu merobohkan seseorang yang punya kekuatan dahsyat. Orang ini bertempat tinggal di luar jagad Angkasa Pura-pura.
Orang ini padahal dikenal kuat di negerinya, dikenal sebutan sang Presiden. Tapi itu tadi, berhadapan dengan si Sapi, orang ini tak ada apa-apanya, langsung letoy.
Itulah biografi singkat si Sapi. Meski dirinya memiliki suara merdu tak besar cetar membahana, namun kalem-kalem bisa menghanyutkan tak terkalahkan.
![]() |
| Sapi hitam khas Bonebolango Gorontalo_budisusilo |
Teng teng teng ! Penanda waktu berbunyi, tuk memulai pertandingan. Sekitar pukul 09.00 pagi, sejarah pertarungan antara Burung Besi dengan si Sapi dimulai. Berkelahi demi mengejar gengsi. Hati-hati jangan mengikuti, hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang ahli. Dan hati-hati, jika ‘berkelahi’ jangan karena mengejar gengsi, sungguh jijik.
Di atas planet arena Angkasa Pura-pura tanpa sungkan-sungkan dengan rasa tak sabaran, sang Burung Besi langsung mengeluarkan tajinya. Dari pojok kejauhan di arena, tiba-tiba langsung keluarkan jurus serangan maut.
Dengan tenaga super besar, Burung Besi langsung melesat cepat mengarah ke tubuh Sapi. Menyerang dengan garang, Sapi pun merasa tak hirau. Sapi tetap berada ditempat, melihat aksi serangannya, mencoba tegar tuk menghadapinya secara jantan.
Gubrak ! Beginilah bunyi di arena saat serangan Burung Besi ke Sapi. Dan hasilnya ternyata, si Sapi benar-benar bukan lawan yang sebanding meski memiliki riwayat mengalahkan lawan berjuluk Presiden.
Tak kuasa melawan Burung Besi, dalam hitungan tak sampai setengah ronde, Sapi pun menyerah dan mati bersimbah darah. Sungguh pertandingan yang beda kelas. Turut berbela sungkawa atas tewasnya Sapi.
Sangat disayangkan, kenapa hingga harus ada yang tewas. Padahal si Sapi ini sudah ada orang yang menanti-nantikannya di lebaran Idul Adha nanti. Takdir berkata lain, Sapi harus segera pergi dari planet Angkasa Pura-pura, semoga arwahnya tenang di alam baka sana.
Setidaknya, pertarungan dahsyat itu dapat menghindari resiko kematian para petarung, meminimalisir peristiwa yang berujung maut. Memang dasar, tak memiliki rasa perikebinatangan.
Maklum, dalam pertandingan kali ini Burung Besi menjuarai. Sebab secara fisik saja, ukurannya yang paling besar dan memiliki ruh semangat kuat bagai singa raja hutan yang tak terkalahkan.
Jelas Sapi yang keok. Berdasarkan riwayatnya, belum lama ini Sapi juga pernah mengalami pengalaman kalah dalam pertandingan di luar negeri Angkasa Pura-pura sana. Kalah dipertandingan event piala ‘Korupsi Sapi dan ‘Harga Daging Tinggi’, akhirnya Sapi tak lagi digemari, karena sering jatuh kalah.
Harusnya, jika si Sapi mau juara, Burung Besi jangan menggendong ruh semangat singa. Andai saja Burung Besi itu bertato cap Tikus, pasti ia akan sering mabuk pontang-panting, mudah tuk ditaklukan. Inilah untungnya kalau tidak pernah berhubungan dengan alkhohol yang memabukan, badan selalu sehat bugar perkasa.
Kenapa bisa kalah yah. Padahal ini Sapi bukan sembarang Sapi. Beda dengan Sapi-sapi lainnya. Ini Sapi, Sapi Edan, makanya tak heran Sapi ini juga pernah buat gila orang-orang politisi yang anti beraliran kiri.
Sapi Edan ini bukan sama dengan Sapi’i atau yang di Minahasa disebut Caparuni, memiliki arti Blangsak kalau orang Betawi Jakarta bilang dan Mbekakrah di tanah Jawa sana.
Kini, sapi-sapi yang lain sedang di KPK, Komplek Perumahan Kandang. Cuma Sapi-dermen saja yang kini masih tersisa di dunia. Dikenal masih kuat belum terkalahkan oleh musuh-musuhnya dari dalam negeri dan musuh dari berbagai luar angkasa sana.
Salut dengan Burung Besi yang memenangi pertandingan. Burung Besi bertato singa memang ahli dalam menerjang lawan dengan pancaran aura garang. Saatnya tinggal menunggu eksistensi burung lainnya, yakni si Burung Garuda, dimana taji mu ? Jangan kalah yah.
Hebat untuk Burung Besi. Rasa-rasa jikalau takbiran keliling bersama Burung Besi jauh lebih seru dan tampil beda. Bebas macet, terhindar aksi tawuran dan begitu melangit, netral dari perbedaan pendapat, pro kontra takbiran.
Semoga, terjadinya kematian Sapi tersebut, tak bakalan terulang lagi. Jangan menjadikan keadaan ini terus membudaya di alam jagad Angkasa Pura-pura.
Tak elok, sebab hak untuk hidup itu harus dijunjung tinggi. Karena pada dasarnya, etika kematian ketentuannya berasal dari takdir Tuhan Yang Maha Kuasa, sang pencipta seluruh alam semesta ini.
Maka dari itu, ini harus jadi perhatian serius dari Menteri Perhubungan dan Menteri Peternakan. Kedua menteri ini harus mendiskusikan jalan yang terbaik, agar kedepan ada perbaikan dan tak kembali kejadian yang serupa. Semoga, amin. ( )


Komentar
Posting Komentar