Kamis, 12 Januari 2012

MENGINTIP DENYUT TARSIUS TANGKOKO

Mengintip Denyut Tarsius Tangkoko
Oleh: Budi Susilo

Berangkat dari Manado pagi hari kala itu, melalui jalur darat dengan sepeda motor menuju hutan Tangkoko, Batuangus Kecamatan Bitung Utara, Kota Bitung, Sulawesi Utara sungguh jadi pengalaman berbeda. Selain dapat merasakan langsung terpaan angin Bitung, juga mampu nikmati terik mataharinya saat itu.

Mendatangi tempat ini bukan tanpa alasan, mau melihat secara langsung binatang paling setia sejagad raya yaitu Tarsius. Binatang berbulu seperti kapas ini tinggal di cagar alam Tangkoko yang seluas sekitar 8.745 hektare ini.

Menyebutnya identik dengan Tangkasi, atau Tarsius, binatang malam endemik Tangkoko. Meski tubuhnya tak lebih besar dari tikus, namun banyak cerita mencengangkan di balik kehidupannya, termasuk sebuah jeritan melengking

Kala itu, Faris Manoppo (38), warga setempat, mendekat ke sebuah pohon beringin. Dengan berjingkat, dia mendekat ke pohon yang tampak paling besar di antara pepohon di sekitarnya. Berbekal lampu sorot (senter), dia melongokkan kepalanya ke sela-sela batang pohon.

FOTO: istimewa

Tak berapa lama, dia memberikan kode ke aku dan temanku Marwah si Penyuka Bayam agar kami bisa lebih mendekat ke pohon. "Tarsiusnya nongol," ujarnya singkat, Minggu (19/9/2010). Setelah ikutan mendongak ke batang yang menyabang ke atas, terlihat oleh kami ada dua mata tajam menatap layaknya Burung Hantu. Begitu senter menyorot ke matanya, dia seperti mendapatkan teman bermain.

Jepret...pret...pret, kamera diarahkan mengabadikan momen mujur sore itu. Meski tak berhasil memotret utuh satu badan, namun cukup buat dokumentasi. Apalagi, ada tiga Tarsius sore itu nongol, meski dua lainnya hanya menampakkan bagian punggung. Kata Faris, Pemandu Cagar Alam Tatongko, Tarsius meski endemik, tidak sewaktu-waktu nongol.

"Dia binatang malam. Biasanya pukul setengah enam sore baru keluar (dari sarang). Kalau malam baru keluar utuh," jelas pria yang telah sembilan bulan bertugas memandu pengunjung itu. Tarsius (Tarisus Spectrum), lazimnya binatang malam lainnya, jadwal keluarnya mengikuti jadwal alam. Lalu apa penanda waktunya keluar?

FOTO: Budi Susilo

Kata Faris, jika terdengar suara serangga sejenis Rie-rie melengking, dan kian gelap kian kencang. "Jika lengkingan kian kencang, pertanda Tarsius keluar," jelas pria yang punya keahlian mengetahui keberadaan binatang endemik di Tangkoko hanya dengan mencium aroma yang terbawa angin.

Sore itu, memang terdengar lengkingan Rie-rie dan kian gelap makin kencang. Alam agaknya telah memberikan penanda waktu bagi daur hidup mahluk penghuninya. Selain memberikan tanda, alam juga memberikan tempat hidup khusus. Karena itu, Tarsius yang menyerupai sepintas mirip burung hantu, terutama matanya, atau binatang tikus itu, tak sembarangan tinggal.

Dia hanya menetap di pohon yang besar, tinggi dan menyisakan rongga tempat bersembunyi. Kata Faris ada 20 jenis pohon yang menjadi habitatnya. "Biasanya di Beringin, Gopasa, atau Gora Hitam," ucapnya seraya menyebut sejumlah vegetasi lainnya. Meski sejauh ini belum diketahui jumlah spesies pastinya di Tangkoko, Tarsius menjadi atraksi sendiri di Tangkoko.

Pasalnya, binatang ini berdasar cerita yang berkembang dari mulut ke mulut, merupakan binatang tipikal monogami, alias setia dengan satu pasangan. Selain bulu kecoklatan dan mata beloknya, Tarsius konon juga mampu memutar kepalanya sejauh 180 derajat. Lalu apa makannya? Faris mengatakan, serangga dan ulat kecil.

"Cara dia menerkam mangsa juga unik. Dia akan amati, lalu melompat ke pohon mangsa berada," katanya. "Tapi, ketika meloncat dia tutup mata, dan kakinya dulu mendarat, lalu tangannya dan baru membuka mata. Itu buat melindungi matanya yang besar," jelas Faris menyoal perilaku bertahan hidup Tarsius.

Selain keunikan itu, konon kabarnya Tarsius juga mempunyai golongan darah netral, yakni O layaknya manusia. Ditanya soal ini, Faris hanya terkekeh sembari menggelengkan kepala tidak tahu. Selain Tarsius, Cagar Alam Tangkoko juga menawarkan atraksi lain seperti Monyet Hitam, Burung Maleo dan Rangkong, serta Monyet Hitam. Lokasi Tangkoko berada di kawasan Desa Batu Putih dan Batu Angus, Bitung. Tahun 1981, Departemen Kehutanan RI melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alama di Sulut, menjadikannya lokasi hutan konservasi.

Berdasar jenis vegetasinya, Tangkoko termasuk kawasan hutan primer. Menurut Jhoni Lengkei, Kepala Polisi Hutan Tangkoko, luas hutan mencapai 3.000 hektare, bahkan digabung Batuangus bisa 9.000 hektare. Sedangkan Cagar Alam Tangkoko luasnya 615 hektare. Selain fauna yang endemik, vegetasi yang ada juga terbilang sejenis. Jenis pepohonanya seperti mangga hutan, kendondong hutan, dan sebagainya.

Ke lokasi, dari Terminal Tangkoko Bitung, akses jalannya mulus hingga ke pertigaan Desa Batu Putih. Begitu masuk, jalanan aspal dengan sesekali tanah, akibat aspal terkelupas langsung menyambut. Jalan menurun dan berkelok. Masuk Desa Batu Putih, lurus ke pantai. Tangkoko belok kiri, dan ada plang nama kusam berlumut sebagai penunjuk. Perlu setidaknya satu jam perjalanan darat.

Ada tiga pos pemantauan di Tangkoko. Pengunjung bisa membawa motor dan mobilnya hingga ke pos dua. Pilih laut, hanya membayar biaya masuk dan retribusi motor. Tapi, kalau ke hutan tambah bayar retribusi Rp 15.000. Tangkoko dengan Tarsius sudah menjadi pembicaraan dunia sejak seratusan tahun lalu.

Persisnya setelah Naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace memaparkan eksotismenya dalam catatan perjalanan berjudul The Malay Archipelago (1869). Sebuah buku yang tak cuma mengungkap keragaman hayati, namun juga menyoal kajian geografi yang menjadi dasarnya adanya garis khayali di belahan Sulawesi. ( )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar