Postingan

JEMBATAN SOEKARNO Tak MARHAENISME

Gambar
Jembatan Soekarno Tak Marhaenisme Oleh: Budi Susilo SEKIAN lama, mereka orang Sulawesi Utara yang merantau keluar dari daerah Kota Manado mungkin akan merasa kaget berdecak kagum. Sebuah kota kecil dibangun infrastruktur jembatan sepanjang sekitar 2.5 Km yang melintang di dua wilayah Manado Utara dan Manado Selatan. Aku sendiri pun yang telah berdiam di Manado hampir satu tahun lebih timbul kebanggan tersendiri, kota yang berhadapan dengan lautan pasifik akan menuju ambang kemajuan. Dibangun jembatan untuk permudah arus lalu lintas transportasi darat. Terlihat megah, modern dan tersistem, sebuah penataan kota yang apik. Jembatan yang diberi nama penyebutan Soekarno itu hampir menelan biaya di angka Rp 200 milyar agar mampu mengurangi penumpukan kendaraan, warga yang dari daerah Tuminting dan Molas tidak perlu lagi ke pusat kota. Sebaliknya, ada warga yang berada di Tuminting mau menuju Kawasan Boulevard tidak perlu lagi melewati Pusat Kota. Maklumlah Kota Manado yang masu...

KORUPTOR JADIKAN 'SEMPAK' BOLA

Gambar
Koruptor Jadikan 'Sempak' Bola Oleh: Budi Susilo GARA-gara petasan, yang mungkin sisa lebaran kemarin, telah benar-benar jadi sarana penghibur bagi para pesepakbola negara Bahrain di stadion Gelora Bung Karno, Selasa (6/9/2011). Aku pun tak ketinggalan berucap, "Selamat yah, menggondol juara sepak bola di Jakarta atas Indonesia," dengan rasa dongkolnya. Beda dengan ku, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meluapkan kekecewaan mendalam akibat ulah suporter Indonesia yang menyalakan petasan saat pertandingan kualifikasi piala dunia sepakbola antara Indonesia dan Bahrain. Bunyi petasan yang dinyalakan suporter dalam pandangan para pemain Bahrain dan orang-orang berkepentingan menganggap ulah suporter itu mengganggu pertandingan. Akhirnya si wasit yang merasa bersikap bijak pun ambil keputusan penghentian pertandingan ketika Indonesia kalah dengan skor 2-0. Tak banyak komentar, Presiden langsung meninggalkan pertandingan dari lantai dua tempat VVIP ke lan...

HAK BERPOLITIK PNS

Hak Berpolitik PNS Oleh: Budi Susilo BAGI Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan pemerintah Kota (Pemko) Bitung Sulawesi Utara mungkin melewati libur panjang Idul Fitri 1432 Hijriah, menghabiskan waktu, tenaga dan pikiran terpusat di kegiatan keluarga, kerabat dan para sahabat. Dan sekarang, usai masa liburan, para Pegawai Negeri Sipil (PNS) pun kembali berangsur normal jalani aktivitas kerja. Memulai hari baru jadwal kerja, dalam penampilan perdana Walikota Bitung Hanny Sondakh mempimpin Apel masuk kerja PNS di lapangan Gedung kantor Wali Kota Bitung, Senin (5/9/2011). Pada kesempatan tersebut, sang nahkoda Bitung memberikan pengarahan kepada seluruh PNS yang hadir dalam apel tersebut. Wali Kota berlatar belakang pengusaha ikan itu menganjurkan kepada PNS Kota Bitung agar bekerja dengan baik dan benar, jangan terlibat dengan dunia politik. Karena saat ini banyak sekali kepentingan politik mengalahkan hal-hal yang benar. Sebab dalam pandangannya, politik itu bisa menguba...

BITUNG DIGEROGOTI BIROKRAT RAKUS

Gambar
Bitung Digerogoti Birokrat Rakus Oleh: Budi Susilo KAGET aku dibuatnya setelah sebuah media nasional mengabarkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) itu kerjaan terburuk di Indonesia, Kamis (18/8/2011). Apalagi pernyataan ini dikuatkan langsung oleh Ekonom Didik J Rachbini semakin merinding buluk kuduk ku. Dipaparkan kinerja pelayanan publik buruk setiap tahunnya, tetapi anggaran negara yang tersedot kepentingan mereka terus membengkak setiap tahunnya. Disinggung pula di Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara 2012 yang total belanjanya Rp 1418,5 triliun, belanja untuk keperluan PNS yang meliputi belanja barang dan belanja pegawai, besarnya Rp 353 triliun. Lagi-lagi menurut Bung Didik, hal itu rasanya tak masuk akal dan bentuk bagian rakusnya birokrasi pusat. Kontan saja aku pun menganggukan kepala dengan mengatkan betul juga. Fenomena itu mengingatkan ku pada pemberitaan media lokal sebelumnya di Kota Bitung provinsi Sulawesi Utara, Rabu (10/8/2011). Kejadiannya se...

PERCINTAAN BITUNG dengan ALANG TORAJA

Gambar
Percintaan Bitung dengan Alang Toraja Oleh: Budi Susilo INDONESIA memiliki warisan budaya yang kaya. Indonesia pun dihuni oleh latarbelakang ragam suku dan ras yang mampu memberikan anugerah kekayaan cipta karya. Karena itulah harmonisasi pun jadi modal penting buat kemajuan peradaban bumi pertiwi ini. Bangsa lain pun bila melihatnya akan rasa takjub, cinta dan terkesima ingin memilikinya. Bayangkan 33 provinsi mendekap erat Indonesia, memancarkan sebuah akal budi yang terkejewantahkan dalam etnik budaya, bahasa dan rasa karsa beragam. Satu di antaranya adalah kebudayaan suku Toraja yang ada di kepulauan pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan mampu menelurkan karya arsitektur seni bangunan yang memberi tambahan dinamisasi perkotaan Bitung. Hidup tumbuh harmonis dengan Kota Bitung Sulawesi Utara memancarkan makna filosofi Bhineka Tunggal Ika. Karya pesona yang dimaksud itu adalah lumbung padi yang orang Toraja menyebutnya dengan bahasa populer Alang. Bentuk yang menyerupai ruma...

KETEDUHAN URBAN PESISIR BITUNG SIRNA

Gambar
Keteduhan Urban Pesisir Bitung Sirna Oleh: Budi Susilo ATMOSFIR perkotaan pinggiran pantai Kota Bitung seolah padang pasir yang tandus. Di daerah titik-titik tertentu kesan yang ada kurang memberikan pencerahan perjalanan. Satu contoh di sepanjang jalan utama Wangurer sampai Madidir berdebu serta dipenuhi asap polusi kendaraan bermotor yang belalu-lalang. Saat melintas, Sabtu (9/7/2011), sekitar pukul 11.00 Wita jalan dilokasi Madidir diramaikan puluhan mobil, motor bahkan truk besar pengangkut barang. Geliat aktivitas warga mencolok seolah kota itu selalu berdinamisasi tanpa mati seperti komplek pemakaman pada umumnya. Terik matahari yang panas menambah suasana semakin gersang dilokasi tersebut. Tentu mereka yang merupakan pejalan kaki merasa terganggu dan tidak menyehatkan karena debu pasir berterbangan akibat dari beberapa proyek pengerukan tanah disekitar daerah Madidir itu. Mau nggak mau, harus tutup hidung kalau lewat. Jalan berdebu bisa ganggu kesehatan. Inilah pen...

BERTEGUH JALANI PANCASILA

Gambar
Berteguh Jalani Pancasila Oleh: Budi Susilo Catatan 4 Juni 1962, organisasi NII Kartosoewirjo tutup usia, harus tersadar dengan petuah agung Mpu Tantular "Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Darma Mangrwa," beraneka itu satu, tidak ada kewajiban yang mendua. Membumilah Pancasila, jangan menyesal kalau nanti diambil negara tetangga. Kain Batik, alat musik Kulintang, tarian Reog sampai makanan Tempe pun nasibnya sudah dipatenkan negara lain. Apa rela gagasan ruh kebangsaan Pancasila diakui negara diseberang sana. Tentu tidaklah. Penyempalan terhadap Pancasila telah ada dalam sejarah lama. Kartosoewirjo dan Teungku Muhammad Daud Beureueh melalui organisasi NII, satu di antara orang yang dikenal sebagai penghantam keutuhan Pancasila, meski ada versi mereka berdua berlatarbelakang ingin menciptakan masyarakat yang menyerupai tujuan yang dikandung dalam Pancasila. Saat ditelurkannya Pancasila di bumi pertiwi Nusantara itu diambil dari norma-norma dan cita-cita yang hidup da...