JONGKOK
Jongkok Siang yang sedang terik, Sunyoto turun dari sepeda motor tuanya buatan negeri matahari terbit. Dia memarkirkan motor merahnya itu di depan warung kopi milik Mak Walanda, yang berdiri di atas lahan Kelurahan Ulin. USAI menaruh motornya di tempat yang dirasa aman, Sunyoto mengarah masuk ke dalam warung itu, sambil membawa tas gendongnya yang hitam besar, yang terlihat isi tasnya sangat berbobot berat, mampu mengucurkan keringat di tubuhnya yang berkulit sawo matang. Ditegur oleh Ahmad, yang sudah terlebih dahulu di dalam warung. “Nyot kemana saja tidak pernah kelihatan. Tidak terdengar lagi kabar mu. Selalu sibuk yak. Saya sudah kangen ini.”