AWALNYA DISANGKA SAKIT JIWA
Peraih Kalpataru 2017 Asal Balikpapan
Dia ingat betul, tahun 1998, mangrove Graha Indah berkondisi buruk. Banyak lahan-lahan mangrove rusak. Pohon mangrove banyak tercerabut dari tanah, lahan basah banyak yang gundul. Kerusakan lahan mangrove di Graha Indah ini sekitar 40 persen dari total 150 hektar. "Saya datang kondisi sudah parah. Rusak sekali. Saya langsung terpanggil untuk tanam-tanam," ungkapnya.
Namun warga yang memberi cap buruk itu, tidak membuat Agus patah arang. Saat dipandang buruk, sebaliknya pria berkumis tebal ini semangatnya semakin menggebu-gebu.
Rasa percaya diri Agus semakin tinggi, suara hatinya berkeyakinan apa yang dilakukannya merupakan jalan yang benar, yang suatu saat akan berbuah baik bagi dirinya dan orang lain. "Orang menghina saya itu saya anggap biasa. Saya anggap sebagai cambuk untuk tambah semangat," tutur Agus.
Menurut dia, membersihkan mangrove dari cemaran sampah merupakan kerja yang paling berat dan banyak mengeluarkan biaya. Sekali beroperasi membersihkan sampah, memperlukan perahu. Tidak bisa dilakukan dengan berjalan kaki apalagi berenang mencempulngkan diri ke air.
Menurut Agus, dampak sosial yang nyata saat Mangrove Graha Indah kembali 'mekar bersemi' ialah orang-orang tersadar untuk ikut menjaga kelestarian lingkungan.
"Tidak banyak orang menebang pohon mangrove. Orang sudah ikut sadar, mangrove rusak sama saja menghancurkan kehidupan manusia," katanya.
Namun bijak Agus, penghargaan Kalpataru itu bukanlah niat awalnya untuk melakukan perubahan bagi lingkungan hidup. Baginya Kalpataru itu hanya bagian dari proses yang tiada diduga-duga. Niat awal yang baik maka hasil akhirnya pun bernilai luhur.
Disangka Sakit Jiwa
Sore
itu, Agus Bei, terlihat sibuk menyambut beberapa orang wisatawan dari luar
Balikpapan yang menyambangi kawasan Mangrove Center Graha Indah, Balikpapan
Utara, Jumat 21 Juli 2017. Puluhan orang datang berkunjung ke mangrove center
ini, ingin berkeliling sungai menikmati rindangan mangrove dan binatang primata
Bekantan.
Tiada
sungkan, pria kelahiran Banyuwangi Jawa Timur ini memberikan edukasi lingkungan
kepada para pengunjung. Ini dilakukannya sebelum para wisatawan itu naik perahu
berkeliling hutan mangrove.
Selama
ini, di seantero Balikpapan, Agus sudah dikenal sebagai pencetus sekaligus
pengelola mangrove Graha Indah. Kehadirannya di kawasan mangrove ini memiliki
sejarah yang memilukan, dihujat hingga rela mau banting tulang demi vegetasi
mangrove.
Sebelum
mangrove Graha Indah ini menjadi lokasi ekowisata favorit dikunjungi banyak
orang dari berbagai penjuru, dahulunya berstatus kritis, tidak serupa layaknya
hutan mangrove yang sesungguhnya.
![]() |
| Jongfajar Kelana |
Dia ingat betul, tahun 1998, mangrove Graha Indah berkondisi buruk. Banyak lahan-lahan mangrove rusak. Pohon mangrove banyak tercerabut dari tanah, lahan basah banyak yang gundul. Kerusakan lahan mangrove di Graha Indah ini sekitar 40 persen dari total 150 hektar. "Saya datang kondisi sudah parah. Rusak sekali. Saya langsung terpanggil untuk tanam-tanam," ungkapnya.
Kondisi
kritis lahan mangrove tidak terlepas dari keserakahan beberapa orang tertentu
yang menginginkan kenikmatan sesaat. Ada pihak yang ingin menjadikan kawasan
mangrove beralih fungsi sebagai kawasan pemukiman.
Agus
menolak tegas apa pun tindakan yang mengancam kelestarian mangrove. Dia
berjuang dengan menghadang setiap gerakan yang akan berupaya mengalihfungsikan
mangrove.
Tentu saja melalui aksi nyatanya dengan menanam dan membersihkan kawasan mangrove, serta sesekali bersosilisasi mengenai manfaat terbesar mangrove Graha Indah.
Tentu saja melalui aksi nyatanya dengan menanam dan membersihkan kawasan mangrove, serta sesekali bersosilisasi mengenai manfaat terbesar mangrove Graha Indah.
Waktu
itu, Agus tidak banyak berharap kepada bantuan pemerintah. Upaya mengatasi
lahan kritis mangrove, Agus melakukan secara mandiri. Jerih payahnya terkuras
maksimal. Tenaga dan waktu dia gunakan untuk normalisasi lahan mangrove.
"Saya
cari bibit-bibit di sekitaran. Mencari yang masih bagus. Ketemu pohon mangrove
yang tumbuh kembang bagus saya ambil bibitnya. Saya tanam lagi ke tampat yang
lain, yang di lahan rusak," katanya.
Pembiayaan
yang dicurahkan Agus untuk mengelola mangrove Graha Indah semua berasal dari
kantong pribadinya. "Saya punya usaha advertising. Punya uang kelebihan
dari kerja saya dari advertising saya gunakan untuk kembangkan mangrove,"
tuturnya.
Pertama
kali memulai merapikan mangrove dia lakukan secara sendiri. Dilakukannya saban
hari tanpa ada kata libur. Pergi menggelandang berkeliling merawat mangrove
tanpa dibantu orang lainnya. Sampai pada akhirnya, ada warga yang mengira,
kalau Agus sudah mengalami sakit jiwa.
"Dibilang
saya kurang kerjaan. Dibilang perusahaan saya sudah bangkrut, stres. Saya masuk
ke air, kena becek lumpur, menanam mangrove, saya dibilang sudah gila,"
ungkap pria kelahiran 28 September 1968 ini.
Namun warga yang memberi cap buruk itu, tidak membuat Agus patah arang. Saat dipandang buruk, sebaliknya pria berkumis tebal ini semangatnya semakin menggebu-gebu.
Rasa percaya diri Agus semakin tinggi, suara hatinya berkeyakinan apa yang dilakukannya merupakan jalan yang benar, yang suatu saat akan berbuah baik bagi dirinya dan orang lain. "Orang menghina saya itu saya anggap biasa. Saya anggap sebagai cambuk untuk tambah semangat," tutur Agus.
Dan
terbukti hingga kini, mangrove Graha Indah ini sering dikunjungi warga. Wajah
mangrove Giri Indah telah bertumbuh rindang. Bekantan mulai bermunculan
kembali. Dahulu saat lahan kritis, binatang Bekantan sulit ditemui.
Setelah
kawasan mangrove normal kembali, Bekantan pun kembali merebak. Logikanya ada
mangrove maka ada bekantan. Mangrove merupakan rumah tinggal sekaligus sumber
makanannya si bekantan. "Sekarang Bekantan yang ada di Graha Indah ini
diperkirakan ada 600 ekor," ujarnya.
Pada
kesempatannya, mencoba menyusuri mangrove ini. Menyusuri perairan yang
tenang. Pinggirannya sungai semua terpagar hidup tanaman mangrove yang
bertumbuh subur. Akar-akarnya mangrove berukuran besar meliuk ke air. Ukuran
mangrove tinggi menjulang berdahan rindang.
Saat
itu, cuaca sedang cerah dipayungi awan putih yang tebal. Sinar matahari dari
ufuk timur memancar terang. Namun ketika masuk berada di dalam kawasan mangrove
Graha Indah ini, semburat matahari hanya bisa masuk melalui celah-celah ranting
dan dahan mangrove. Suasana di dalam kawasan mangrove tidak terasa terik
layaknya di padang pasir. Susana di dalam sejuk dan adem.
Banyak
Menemui Rintangan Terjal
Mengembalikan
Mangrove Graha Indah seperti aslinya bukanlah pekerjaan yang ringan semudah
membalikkan telapak tangan. Ini diungkapkan Agus, titian perjuangannya
mengelola mangrove terdapat banyak batu sandungan, rintangan terjal dan
berduri.
Selama
ini, pengalaman yang Agus rasakan, hal yang terberat dari mengelola mangrove
ialah persoalan sampah plastik. Kawasan mangrove yang dia kelola rawan tercemar
sampah-sampah plastik.
Kondisi itu membuat dirinya harus selalu rutin membersihkan. "Setiap hari selalu ada. sampah-sampah plastik. Tas kresek plastik, plastik bekas makanan minuman," tuturnya.
Kondisi itu membuat dirinya harus selalu rutin membersihkan. "Setiap hari selalu ada. sampah-sampah plastik. Tas kresek plastik, plastik bekas makanan minuman," tuturnya.
Sampah
yang tak diundang itu dalangnya dari perairan laut. Ketika laut sedang pasang
atau ada angin kencang, menghanyutkan sampah-sampah masuk ke kawasan mangrove.
Sementara sampah dari laut tidak terlepas dari aliran sungai pemukiman warga. Ada yang membuang sampah ke selokan air atau sungai lalu mengalir sampai ke laut kemudian menyangkut ke mangrove.
Sementara sampah dari laut tidak terlepas dari aliran sungai pemukiman warga. Ada yang membuang sampah ke selokan air atau sungai lalu mengalir sampai ke laut kemudian menyangkut ke mangrove.
Menurut dia, membersihkan mangrove dari cemaran sampah merupakan kerja yang paling berat dan banyak mengeluarkan biaya. Sekali beroperasi membersihkan sampah, memperlukan perahu. Tidak bisa dilakukan dengan berjalan kaki apalagi berenang mencempulngkan diri ke air.
"Jalankan
perahunya memakai bahan bakar bensin. Butuh banyak bensin untuk keliling
membersihkan sampah. Satu harinya bisa terkumpul satu kubik sampah. Kalau dihitung-hitung
sebulannya bisa butuh biaya Rp 5 juta," kata Agus.
Tantangan
terberat kedua ialah persoalan peralihan lahan. Selama ini status lahan
Mangrove Graha Indah banyak yang berstatus milik pribadi per orang. Dari total
150 hektar, sebanyak 15 hektar milik pemerintah Kota Balikpapan, sedangkan
sisanya aset beberapa orang yang berstatus hak garap.
Upaya
menangkal alih fungsi lahan mangrove, Agus tidak bosan-bosannya, berusaha
semampunya memberikan pencerahan, melalui temu langsung dan media sosial serta
blog di dunia maya.
Intinya yang Agus tegaskan jangan ada peralihan fungsi lahan mangrove untuk menjadi tempat bangunan beton. "Dialihkan fungsinya, alam mangrove akan mengalami degradasi. Yang rugi siapa ? yang mereka sendiri nantinya," katanya.
Intinya yang Agus tegaskan jangan ada peralihan fungsi lahan mangrove untuk menjadi tempat bangunan beton. "Dialihkan fungsinya, alam mangrove akan mengalami degradasi. Yang rugi siapa ? yang mereka sendiri nantinya," katanya.
Senadainya
lahan mangrove disulap menjadi pemukiman atau bangunan ruko pastinya tidak akan
berfaedah. Kemanfaatannya tidak bernilai lipat ganda. Lahan mangrove ini dekat
dengan wilayah laut.
Ketika terjadi angin kencang, berhembus ke arah pemukiman maka akan hancur lebur bangunannya. Sebaliknya, mangrove masih tumbuh asri akan menangkal keganasan tipuan angin.
Ketika terjadi angin kencang, berhembus ke arah pemukiman maka akan hancur lebur bangunannya. Sebaliknya, mangrove masih tumbuh asri akan menangkal keganasan tipuan angin.
Agus
mengungkapkan, lahan mangrove banyak diincar orang. Soalnya harga lahan
mangrove itu sangat murah. Bisa dijadikan daratan untuk rumah atau bangunan
lain. Tapi nanti dampak ke depannya jauh lebih besar.
Bermanfaat
Sosial dan Ekonomi
Filosifi
bersahabat dengan mangrove tidak banyak diketahui orang. Berbeda halnya dengan
diri pribadi Agus, bergaul menjadi teman dekat mangrove adalah sesuatu paling
berharga. Dampaknya akan memberi banyak manfaat.
"Banyak orang belum paham apa manfaat mangrove di lingkungan sekitar kita. Saya berusaha untuk memberikan pemahaman," katanya.
"Banyak orang belum paham apa manfaat mangrove di lingkungan sekitar kita. Saya berusaha untuk memberikan pemahaman," katanya.
Untuk
itulah, Agus mencetus prinsip bersahabat dengan mangrove yakni kenali, lakukan
dan mengajarkan. Setiap manusia mesti mengenali dahulu apa itu mangrove.
Setelah kenal tentu saja akan mengetahui manfaatnya.
Kemudian
melakukan. Tidak hanya kenal mangrove tetapi perlu ikut turun tangan dalam
wujud nyata di lapangan dengan cara menjaga, merawat, dan menanam mangrove.
Bila ini sudah dilakukan maka sebarkan kebaikan yang telah dilangsungkan supaya
banyak orang yang ikut peduli terhadap mangrove.
Sebenarnya,
tambah dia, kemanfaatan mangrove tidak hanya satu sisi namun sangat melimpah.
Hal yang paling berdaya guna, mangrove sebagai penyerap karbon dioksida. Satu
hektar lahan mangrove mampu menyerap 8,11 ton per tahun karbon dioksida.
"Bisa dibayangkan hidup tanpa mangrove bisa sumpek. Panas," tegasnya.
Menurut Agus, dampak sosial yang nyata saat Mangrove Graha Indah kembali 'mekar bersemi' ialah orang-orang tersadar untuk ikut menjaga kelestarian lingkungan.
"Tidak banyak orang menebang pohon mangrove. Orang sudah ikut sadar, mangrove rusak sama saja menghancurkan kehidupan manusia," katanya.
Dilihat
dari dampak ekonomi, mangrove Graha Indah menghidupkan masyarakat sekitar
melalui ekowisata. Roda ekonomi berputar, warga terbedaya memiliki peluang
lapangan pekerjaan sebagai penyedia jasa ekowisata.
Banyak
orang berkunjung, akan memberikan masukan pendapatan bagi warga pengelola
ekowisata. "Sampai-sampai kami kewalahan. Banyak yang datang tapi armada
perahu kami terbatas, tidak mampu melayani mengantar wisata mangrove,"
tutur Agus.
Berencana
Bertemu Presiden Jokowi
Berkat
sepak terjang Agus Bei menata kawasan Mangrove Graha Indah, dirinya kini
dinobatkan sebagai tokoh penting dalam bidang lingkungan hidup. Bapak beranak
dua ini mendapat penghargaan bergengsi tingkat nasional.
Dirinya
akan menerima penghargaan Kalpataru tahun 2017 kategori perintis lingkungan.
Kalpataru merupakan apresiasi terhadap individu yang dianggap sangat berjasa
besar terhadap pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup.
"Insyallah
nanti penghargaan akan disampaikan secara langsung oleh Presiden Republik
Indonesia pada 2 Agustus 2017 di Gedung Manggala Wanabakti Senayan
Jakarta," ungkap Agus, yang saat itu mengenakan baju kaos lengan panjang
coklat.
Mereka
yang meraih Kalpataru ini bukanlah sembarangan orang. Pemilihannya dilakukan
secara selektif ketat. Skala nasional, mereka yang masuk klasifikasi calon
penerima Kalpataru sebanyak seratusan orang, kemudian dikerucutkan menjadi 22
orang. Setelah itu diseleksi lagi menjadi 10 besar dan finalnya dari 10 orang
ini diseleksi lagi.
Namun bijak Agus, penghargaan Kalpataru itu bukanlah niat awalnya untuk melakukan perubahan bagi lingkungan hidup. Baginya Kalpataru itu hanya bagian dari proses yang tiada diduga-duga. Niat awal yang baik maka hasil akhirnya pun bernilai luhur.
"Saya
tidak mengira kalau mau mendapat Kalpataru. Mudah-mudahan ini menjadi yang
terbaik buat saya, orang lain dan bagi daerah saya. Membawa nama harum
Balikpapan," tuturnya.
Dirinya
berharap, melalui Kaplataru ini akan berdampak luas, memberikan pengaruh bagi
peningkatan kualitas mangrove yang ada di Kalimantan Timur. Orang akan
tersadar, mengetahui akan arti penting kelestarian alam.
"Penghargaan
tertinggi dari kerja keras bukanlah pada apa yang kita hasilkan. Melainkan
bagaimana dapat berkembang dan mempunyai nilai manfaat, dimulai dari hal yang
terkecil sekalipun," tegas Agus.
Dia
menegaskan, keberhasilan penobatan dirinya sebagai penerima Kalpataru tidak
terlepas dari pihak-pihak yang selama ini ikut berkontribusi.
"Alhamdulillah berkah do'a restu seluruh masyarakat Balikpapan dan di luar sana yang tidak bisa saya sebutkan yang sudah memberikan dukungan dan semangat. Sehingga sampai hari ini kami dapat diberikan kesehatan," ungkapnya.[1] ( )
"Alhamdulillah berkah do'a restu seluruh masyarakat Balikpapan dan di luar sana yang tidak bisa saya sebutkan yang sudah memberikan dukungan dan semangat. Sehingga sampai hari ini kami dapat diberikan kesehatan," ungkapnya.[1] ( )
[1]
Koran Tribunkaltim, “Agus Bei
Penyelamat Mangrove Raih Kalpataru; Awalnya Disangka Sakit Jiwa,” terbit pada
Sabtu 22 Juli 2017 di halaman depan bersambung ke halaman 11 rubrik Tribun Line.




Komentar
Posting Komentar