ASEAN HOLDING HANDS 2013
Kita Berjabat Erat
dalam Satu
Keluarga ASEAN
MINGGU
pagi cuaca cerah, 15 September 2013. Matahari yang terbit di ufuk timur
memancarkan cahaya hangatnya. Angin yang bertiup semilir pun menambah
kenyamanan pagi hari.
Kondisi
yang bersahabat inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh sebagian besar
masyarakat untuk berolah-raga pagi di kawasan bundara Monumen Nasional (Monas)
Jakarta Pusat.
Setiap
Minggu pagi, Monas selalu ramai orang-orang dari berbagai penjuru daerah. Ada
yang sekedar untuk olah-raga, mencari nafkah menjual barang dagangan, dan
berwisata menikmati alam pagi Monas yang eksotis.
Kali
ini situasi Monas bertambah ramai. Pasalnya, pemerintah bersama masyarakat
menggelar 4000 salam ASEAN dengan
‘aroma’ ASEAN Holding Hands, yang diselingi acara senam bersama, flashmob, konser musik dan bagi-bagi
hadiah cindera mata ASEAN.
Acara
berlangsung sekitar pukul 7 pagi Waktu Indonesia Barat. Masyarakat sangat
mengapresasi acara ini, dibuktikan ada ribuan orang saling bererat tangan, atau
holding hand, sebagai simbol
persahabatan dalam lingkungan komunitas ASEAN.
Intinya,
secara egaliterianisme, ASEAN tidak
hanya dimiliki oleh kalangan elit-elit penguasa negara. ASEAN bukan saja hanya
dalam lingkarang pejabat-pejabat negara.
Pembuktian
bahwa ASEAN adalah milik semua yang mencakup anak-anak, pelajar, mahasiswa,
orang remaja, dewasa, kaum tua, dan tidak memandang batas status jabatan,
profesi, suku, agama, dan ras.
Memang
selama ini kesan yang dimunculkan ASEAN
Holding Hands, telah menjadi identitas tradisi yang dilakukan petinggi
negara-negara ASEAN di dalam momen pertemuan organisasi Asia Tenggara ASEAN.
Tetapi
melalui ASEAN Holding Hands di Monas, mampu menjungkirbalikan citra tersebut
menjadi ASEAN milik kita, ASEAN milik semua tanpa terkecuali dan ASEAN Holding Hands adalah gambaran 10
negara di Asia Tenggara yang sangat bersahabat, saling membantu dan menolong
dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya.
Kegiatan
ini sangat berguna bagi masyarakat agar tambah wawasan mengenai Komunitas ASEAN
pada 31 Desember 2015 nanti. Pengetahuan harus disebarluaskan ke seluruh
lapisan masyarakat. Tanpa adanya sosialisasi, rasanya tak akan mungkin akan
berjalan baik komunitas regional tersebut.
Melalui
pemberitahuan, masyarakat akan menyadari bahwa tantangan ke depan bukan lagi
seputar dalam negeri Indonesia saja, namun sudah mencakup wilayah Asia
Tenggara.
Andaikan
tidak mengetahui perkembangan ini, maka tidak tertutup kemungkinan masyarakat
akan kaget dan merasa tidak siap atas kondisi global tersebut.
Jika
masyarakat tidak siap, maka kemungkinan besar masyarakat Indonesia tak berdaya
dalam pergaulan ASEAN 2015. Masyarakat Indonesia tentu saja hanya akan menjadi
penonton di negeri sendiri dan sebagai bangsa konsumen dari negara-negara Asia
Tenggara yang selangkah lebih maju.
Untuk
itu, penting rasanya pemerintah bersama masyarakat, terkhusus ASEAN Blogger
untuk terus melakukan sosialisasi, menebarkan pendidikan mengenai ASEAN ke
seluruh generasi.
Satu
langkah sederhana adalah memanfaatkan jejaring sosial seperti facebook, twitter dan situs blog sebagai wadah kampanye dunia ASEAN.
Sebab
belakangan ini, penggunaan jaringan internet di Indonesia bertumbuh pesat,
tepat kiranya selain di dunia nyata, harus juga melakukan sosialisasi ASEAN di
dunia maya.
Mari
kita sambut dan hadapi dengan optimis, komunitas ASEAN 2015 akan memberikan
manfaat besar bagi bersama. Amin. ( )
| Tugu Monumen Nasional di Kota Jakarta (photo by budi susilo) |
![]() |
| Warga masyarakat berolah-raga di Monas Jakarta, Minggu (15/9/2013) / (photo by budi susilo) |
| Slogan masyarakat Asia Tenggara atau ASEAN (photo by budi susilo) |
| Warga masyarakat bergandeng tangan demi komunitas ASEAN (photo by budi susilo) |
| Anak-anak muda berkumpul mengikuti ASEAN Holding Hands (photo by budi susilo) |
| Panggung hiburan melengkapi acara ASEAN Holding Hands (photo by budi susilo) |



Komentar
Posting Komentar